Kamis, 08 Mei 2014

True Love

Setelah enam tahun menjanda, Ibu seorang teman akan menikah akhir bulan ini. Yang membuatku terkesan, bukan karena pernikahan di usia senja. Melainkan karena pernikahan ini terjadi dengan kisah yang amat dramatis. Yang bahkan film Korea saja akan mikir ratusan kali untuk menjadikannya cerita, sebab kisahnya terlalu sinetron.
Alkisah, si bapak duluuuu sekali naksir seorang cewek. Setelah lama memendam rasa, dia berniat untuk menyatakan. Sayang, doi kalah cepat. Cewek itu duluan nikah. Patah hati, bapak itu mundur teratur.
Berpuluh tahun kemudian, bapak itu melihat seorang anak cewek yang mirip sekali dengan pujaan hatinya dulu. Bertanyalah dia, dari mana asalnya. Mereka pun ngobrol. Hingga akhirnya anak cewek itu tahu kalau si bapak dulu kuliah di kampus yang sama dengan ibunya.
Suatu hari, saat dalam pembicaraan iseng santai dengan ibunya di Semarang, bapak itu menelpon karena ada perlu dengan bos anak cewek itu. Maka berceritalah gadis itu pada ibunya, kalau dia mengenal seseorang yang satu almamater dengan ibunya.
Ternyata, ibunya mengatakan kalau dia punya teman kuliah yang namanya sama dengan bapak itu. Berhubung nama bapak itu agak unik, gafis itu terdorong untuk mengkonfirmasi pada si bapak jika saja dia mengenal ibunya. Dan ternyata memang iya.
Beberapa bulan kemudian, istri si bapak meninggal karena sakit. Berbulan setelah itu, ibu si cewek mengundang si bapak untuk hadir pada acara reuni. Dari saat itulah, keduanya sering berkabar. Hingga akhirnya, bapak itu punya nyali untuk menyatakan perasaannya yang terpendam bertahun silam. Dan, tereng tereng...akhirnya kedua sejoli itu sepakat untuk membina mahligai rumah tangga.
Oh love, so divine. So wonderful. So amazing. Wish for the same great story for mine ;)

Selasa, 06 Mei 2014

Tentang Kaca

Kenapa kaca ditemukan? Karena manusia suka melihat dirinya sendiri. Karena manusia perlu melihat dirinya sendiri. Keduanya merupakan fakta. Keduanya merupakan kebutuhan dasar.
Kebutuhan menyukai diri sendiri. Kebutuhan melihat diri sendiri, menyukainya, dan berintrospeksi.
Kesemuanya diperlukan agar dapat menjadi sosok yang lebih baik. Agar dapat bersosialisasi dengan orang lain. Agar menghargai diri sendiri. Agar tidak besar kepala atau rendah hati.

Senin, 05 Mei 2014

Lampu-lampu

Saat take off dan landing tadi saya melongok ke jendela. Ini kedua kalinya saya naik pesawat di malam hari. Saya melihat barisan cahaya itu dan terpana. Indah sekali. Saya teringat pada bintang-bintang dan Star Wars ;)

Sabtu, 03 Mei 2014

Membuang Sampah Plastik a la Simbah

Simbah saya bukan bukan aktivis lingkungan. Tidak kenal green peace ataupu  kelompok hebat lain. Beliau hanya pria sederhana dari sebuah pelosok desa di Jawa Tengah yang menggantungkan hidupnya dan hidup keluarganya dari bertani, beternak, dan menjahit. Walaupun begitu, simbah kakung almarhum punya satu kebiasaan unik dalam hal membuang sampah plastik. Kebiasaan ini ditiru ibu saya. Dan entah kenapa juga acap saya lakukan.
Kebiasaan yang saya maksud adalah kebiasaan membentuk kulit sampah plastik menjadi bentuk seperti ini:


Dengan dibikin jadi bentuk ini, sampah jadi ringkas. Sehingga tidak makan tempat di pembuangan. Juga membikin lebih rapi.
Jadi, kalau lain waktu Anda melihat sampah plastik yang bentuknya begini, Anda boleh curiga kalau itu adalah hasil karya saya, ibu, ataupun saudara-saudara kami.
Walaupun tentunya, bukan tidak mungkin, simbah membikin ini karena meniru orang lain juga. Sehingga bentuk lipatan sederhana yang tidak punya hak cipta ini sebenarnya anonim saja pencipta pertamanya.

mbak GPS

Dalam perjalanan ke Jakarta, kami berlima semata-mata mengandalkan GPS (Global Positioning System) dan papan penunjuk jalan. Benar-benar mengandalkan alat ini untuk mencari rute Jogja - Jakarta dan alamat-alamat tujuan di Jakarta. Hebat sekali bukan? Cobalah kapan-kapan dan rasakan semua sensasi bingung, senang, dan kesalnya.
Bagaimana tidak, mbak-mbak yang setia ngasih petunjuk arah lewat speaker smart phones ini, seringnya baru bilang 'turn right' saat mobil sudah terlanjur di tengah jalan. Bayangkan kalau kondisi traffic sedang padat merayap di mana setiap inci mempengaruhi hasil tikungan mobil. Atau, saat di jalan layang yang semula lurus dan mendadak bercabang tiga. Sementara mbak-mbak GPSnya masih saja diam seribu bahasa.
Alhasil, beberapa kali kami sempat gambling pilih jalan. Berdasarkan nurani dan, kalau ada, papan penunjuk jalan.
Mbak-mbak GPSnya ya tetap saja kalem bilang 'turn right, straight forward atau turn left', tanpa merasa bersalah atau emosional karena pesannya tidak diterima dengan baik oleh komunikan. Bedakan jika dia adalah ibu, bapak, kakek, nenek, kakek, om, atau tante, pasti sudah disertai nada tinggi, "Gimana sih, disuruh belok kok malah lurus. Salahkan. Harus muter nih. Jauh! Rugi bensin dan waktu. Tidak efisien." Dan rentetan nasehat yang bukan tidak mungkin membikin driver kehilangan kesempatan belok di kesempatan berikutnya. Atau malah harus opname karena gangguan akut pendengaran ;P
Tempo hari kami membikin banyak guyon terkait hal ini. Membandingkan tipe sifat teman, jika dia yang menjadi pemandu GPS. Saya termasuk salah satu yang paling parah. Tidak saja karena akan berteriak super keras. Juga karena rentetan omelan ampuh saya ;P
Jadi, coba deh, kalau Anda orang hebat yang bisa bikin GPS ini ini lebih keren: bikin dia kasih nasehat lebih cepat. Atau kalau Anda seperti kami, sekedar pengguna, mari kita berdoa bersama kalau di tikungan selanjutnya mbak-mbak GPSnya tidak telat bicara.

Jumat, 02 Mei 2014

Ibukota

Duluuuu sekali, cita-cita saya adalah kerja di ibukota. Kayaknya kok keren sekali: dinamika usaha, kehidupan yang berdetak. Saya ingin sekali mengeksploitasi semaksimal mungkin potensi saya. Tapi, ibu tidak mengijinkan. Jadilah saya harus bertahan di Jogja.
Seiring waktu, pemikiran saya berkembang. Ibukota, entah mengapa dan bagaimana, telah kehilangan pesonanya. Saya justru makin cinta pada tempat tinggal saya yang istimewa ini. Dan jadilah saya sekarang, bergeleng-geleng melihat deretan orang yang berduyun ke ibukota.

Kamis, 01 Mei 2014

Jogjakyu

Pulang ke kotaku, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat.
Ya, inilah Jogjaku. Love it ;)